Hempas angin menyengat kulit kehidupan.
Sesekali menerbangkan sampah sampah pemikiran.
Serentak.....pelan berpindah singgahan.
Empat musim berlalu tlah berbeda keadaan.
Hijau hamparan rasa tampak usang bertirai gersang.
Membosankan di rasa...........
Guratan putus asa retakan kembali hati .
Di jiwa seperti tlah ada pemerkosaan
Kata hati pudar tanpa segurat warna cinta sekali pun.
Menggadai rindu dengan kecemburuan.
Mengikis kemesraan atas sbuah prasangka .
Aduuh.............ini menjadikan kebodohan !
Kepercayaan di eksekusi mati.
Terbujur jasad jasad keyakinan penuh luka.
Tak ada lagi kata mengerti.....apa lagi memahami.
Ya...sudahlah...jika itu nyanyian takdir.
Menyisakan noda dan luka luka .
Mungkin akan terasa perih dan membebani.
Masih ada yang di tunggu dengan waktu ini.
Untuk kembali bercengkerama bersama keheningan.
Merajut kesepian hingga usai malam.
Yakinlah .... hari pagi masih ramah menjemput .
Dan siang masih bisa menerimanya apa pun keadaanya
.
Sesekali menerbangkan sampah sampah pemikiran.
Serentak.....pelan berpindah singgahan.
Empat musim berlalu tlah berbeda keadaan.
Hijau hamparan rasa tampak usang bertirai gersang.
Membosankan di rasa...........
Guratan putus asa retakan kembali hati .
Di jiwa seperti tlah ada pemerkosaan
Kata hati pudar tanpa segurat warna cinta sekali pun.
Menggadai rindu dengan kecemburuan.
Mengikis kemesraan atas sbuah prasangka .
Aduuh.............ini menjadikan kebodohan !
Kepercayaan di eksekusi mati. Terbujur jasad jasad keyakinan penuh luka.
Tak ada lagi kata mengerti.....apa lagi memahami.
Ya...sudahlah...jika itu nyanyian takdir.
Menyisakan noda dan luka luka .
Mungkin akan terasa perih dan membebani.
Masih ada yang di tunggu dengan waktu ini.
Untuk kembali bercengkerama bersama keheningan.
Merajut kesepian hingga usai malam.
Yakinlah .... hari pagi masih ramah menjemput .
Dan siang masih bisa menerimanya apa pun keadaanya
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar